Tik.. tik.. tik..
Suara pergantian detik itu masih saja terdengar jelas olehku.
Lalu ku lihat jam putih tak ber-angka tertempel di dinding kamar yang bercat putih juga.
'Oh sudah 4 jam berlalu' ku berkata dalam hati.
Ya. Sudah 4 jam berlalu setelah Dia mengatakan bahwa kita tak bisa bersama lagi.
Aku masih saja pada posisi dimana bantal putih tulang pada pangkuanku, rambut tergerai lusuh, dan mata sembab sebesar bola pimpong.
Tik.. tik.. tik..
Suara itu masih ada.
Tapi kali ini, waktu berlalu lebih cepat. Karena 4 jam telah berganti menjadi 4 bulan.
Ya. Jam putih yang menempel pada dinding bercat putih.
Dengan suasana yg sama. Dengan kondisi hati yang sama.
Hatiku bertanya. 'Bagaimana kabarmu wahai hati yg menyakitiku?'
Seketika ku raih hp putihku dan ku buka media yg ku pikir dapat menjadi sedikit obat rinduku pada hati yg menghianatiku.
Senyumannya. Kesejukan wajahnya. Tetap saja membuatku secara reflek tersenyum sembari air mata meluncur begitu bebasnya.
'Ternyata kau cukup bahagia tanpaku'.
Melihatnya bahagia dengan orang yg membuatnya berpaling dariku.
Melihatnya tersenyum bersama org yang merampas senyumku.
'Oh hatiku. Baik-baiklah!'. Ku berbisik lirih pada diriku sendiri.
----------------
Bukankah hanya aku yg dapat mengontrol hatiku agar tetap kuat! Agar segera beralih!
Bukankah hanya aku yg dapat menahan air mataku agar tidak mudah jatuh! Agar selalu tegar!
Namun jujur saja.
Kali ini ku sangat merindukan tubuh hangatnya untuk memelukku. Ku harapkan senyum indahnya untuk menyemangatiku. Ku rindukan suara lembutnya untuk sekedar menenangkanku.
Challange 4-
#RuangProduktif
Comments
Post a Comment