Skip to main content

Ice Cream Berbahan Dasar Buah Local Ciplukan (Physalis angulata.L) dengan Modifikasi Susu Colostrum sebagai Inovasi Menuju Masyarakat Hidup Sehat

Ice Cream Berbahan Dasar Buah Local Ciplukan (Physalis angulata.L) dengan Modifikasi Susu Colostrum sebagai Inovasi Menuju Masyarakat Hidup Sehat
Oleh
Wirdatun Nafisah & Rizqy Khoirun Nisa'

Telah diakui secara luas bahwa buah-buahan dan sayuran merupakan komponen penting dalam diet sehat. Serat dalam buah-buahan dan sayuran bermanfaat untuk membantu menjaga kadar gula darah, menjaga kadar lemak darah, menyehatkan saluran cerna dan membantu membuat rasa kenyang bagi yang sedang diet (Agudo, 2005). Selain itu, mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran juga bermanfaat mencegah kerusakan sel dalam tubuh akibat proses oksidasi dari polusi dan metabolisme tubuh (Witjaksono, 2013).
Mengkonsumsi buah dan sayur penting untuk dilakukan setiap individu. Namun, Indonesia merupakan negara dengan tingkat populasi konsumsi buah dan sayur yang sangat rendah. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Indonesia, bahwa pravelensi kurang gizi pada balita memberikan gambaran yang fluktuatif dari 18,4% pada tahun 2007, menurun menjadi 17,9% pada tahun 2009 dan kemudian naik kembali pada tahun 2013 menjadi 19,6%. Dua provinsi di Indonesia memiliki pravelensi kurang gizi pada balita yang sangat tinggi yaitu provinsi NTT dan Papua Barat yaitu sebesar >30%. Provinsi lainnya yang memiliki pravelensi paling rendah adalah provinsi Bali dan DKI Jakarta yaitu sebesar <15%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penduduk NTT dan Papua Barat khususnya para balitanya tidak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran dengan baik.
Data pravelensi kurang gizi tersebut tentulah menjadi hal yang sangat perlu dikhawatirkan. Pasalnya 1000 hari pertama kehidupan yaitu sejak janin sampai anak berusia dua tahun akan mempengaruhi pertumbuhan fisiknya dan perkembangan kognitif yang juga dapat berpengaruh terhadap ketangkasan berpikir dan produktivitas bekerja. Selain itu, kurang gizi juga dapat dikaitkan dengan risiko terjadinya penyakit kronis pada usia dewasa, yaitu kegemukan, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke dan diabetes (Kemenkes, 2014). Fakta tersebut menunjukkan bahwa konsumsi buah-buahan dan sayuran merupakan hal yang sangat urgen.
Menurut Wirakusumah (2006), salah satu faktor pemicu turunnya minat masyarakat dalam konsumsi buah-buahan dan sayur adalah karena produk makanan luar negeri yang memliki citra lebih baik dalam kuliner Indonesia. Hal tersebut membudaya sehingga masyarakat menyepelehkan kandungan-kandungan penting seperti vitamin, mineral dan zat-zat non gizi yang jarang ditemukan pada makanan luar negeri tersebut. Kebiasaan masyarakat dewasa tersebut juga berpengaruh terhadap kebiasaan balita dan anak-anak dalam mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran. Orang-orang dewasa, terutama ibu yang kurang memahami akan pentingnya mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran menjadi faktor terbesar menurunnya tingkat konsumsi buah dan sayur di Indonesia. Selain itu, menurut Khomsan (2006), anak sekolah cenderung memilih makanan fast food yang menurutnya lebih enak dan mengenyangkan dari pada mengkonsumsi buah dan sayur.
World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa rendahnya konsumsi buah dan sayuran berperan dalam 2,7 juta kematian dari penyakit-penyakit kronis per tahun dan menyebabkan sekitar 31 persen penyakit jantung iskemik dan 11 persen stroke di seluruh dunia (Ruel et al., 2005). Oleh karena itu, WHO/FAO merekomendasikan setiap orang mengonsumsi buah dan sayuran minimum 400 gram/kap/hari (di luar kentang dan umbi-umbian berpati lainnya) atau sekitar 146 kg/kap/tahun (WHO, 2003; Ruel et al., 2005; Witjaksono, 2013) untuk mencegah penyakit-penyakit kronis seperti jantung, kanker, diabetes dan kegemukan serta mencegah dan mengurangi beberapa defisiensi mineral (WHO, 2003). Sementara itu, UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 menganjurkan untuk mengonsumsi 3-5 porsi sayuran dan 2-3 porsi buah dalam Tumpeng Gizi Seimbang (Witjaksono, 2013). Khusus untuk buah, Pusat Kajian Buah Tropis Institut Pertanian Bogor (PKBT-IPB) menyebutkan bahwa standar konsumsi yang ditetapkan oleh WHO/FAO adalah sebesar 200 gram kg/kap/tahun (Antaranews, 29 Juni 2013) atau setara dengan 73 kg/kap/tahun.
Tindakan yang perlu dilakukan untuk mendorong masyarakat Indonesia agar lebih menyukai dan termotivasi untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran adalah berinovasi dengan memodifikasi buah atau sayuran menjadi produk makanan yang lebih menarik, misalnya modifikasi ice cream ciplukan (Physalis angulata.L).
Kebanyakan masyarakat hanya memandang sebelah mata tentang tumbuhan ciplukan, yang sering dianggap sebagai tanaman gulma (penggangu tanaman lain) dan hanya sebagian orang yang mengerti tentang tanaman berkhasiat ini. Ciplukan mengandung saponin, flavonid, polyphenol dan physalin yang berperan dalam penghambatan sel kanker. Selain itu, tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat kencing manis, sakit paru-paru, ayan, dan borok (Fitria et al., 2011). Tanaman ciplukan bersifat analgetik yang dapat membantu penderita kanker untuk meredakan rasa nyeri dan juga bersifat diuretik yang dapat meluruhkan air seni.
Hasil penelitian Apri Nuranda dkk. (2016) senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada bagian daun ciplukan ialah alkaloid, saponin dan steroid. Pada bagian batang ialah alkaloid, saponin, steroid dan flavonoid sedangkan pada buah sendiri ialah alkaloid, saponin dan triterpenoid. Potensi aktivitas antioksidan ciplukan menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan pada daun adalah 60,34 ppm, buah adalah 63,46 ppm dan batang adalah 86,36 ppm. Berdasarkan hasil tersebut tumbuhan ciplukan dapat dinyatakan aktif sebagai antioksidan karena mempunyai nilai IC50 < 100 ppm.
Upaya meningkatkan konsumsi buah ciplukan dapat digunakan sebagai bahan dasar ice cream yang notabene banyak orang yang menyukai ice cream. Modifikasi buah ciplukan menjadi ice cream ciplukan ini akan sangat membantu dalam meningkatkan konsumsi buah lokal dan terutama dapat menurunkan prevalensi penderita kanker akibat kekurangan gizi.
Modifikasi ice cream ciplukan ini menggunakan campuran susu skim colostrum/susu tanpa lemak dan bebas laktosa yang tidak menggemukkan dan aman bagi penderita laktosa intoleran. Colostrum manusia tidak selalu tersedia dalam tubuh dalam jumlah banyak, maka kita dapat mengambil dari sumber lain (sapi). Colostrum mengandung Ig-G yang sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan juga mempercepat regenerasi sel. Kuatnya daya tahan tubuh manusia akan menghambat terjadinya kerusakan sel-sel yang mengakibatkan tidak berfungi dengan sempurnanya organ tersebut.
Pencampuran susu skim colostrum pada pembuatan ice cream ciplukan ini akan menambah zat gizi  yang tidak dimiliki oleh buah ciplukan yang juga berguna untuk meredakan penyakit kanker. Sehingga terkandungnya zat-zat anti kanker pada ice cream ini yang aman untuk dikonsumsi oleh penderita kanker.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa modifikasi ice cream ciplukan dapat menjadi solusi dari kurangnya minat dan ketertarikan masyarakat Indonesia dalam konsumsi buah-buahan dan sayuran. Jika pravelensi konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia meningkat, maka permasalahan balita atau masyarakat kurang gizi di Indonesia juga akan menurun.

#RuangProduktif
 



DAFTAR PUSTAKA
Aguido, A. 2005. Measuring Intake of Fruit and Vegetables. Background paper for the Joint FAO/WHO Workshop on Fruit and Vegetables for Health, 1-3 September, Kobe, Japan.
Antaranews. 29 Juni 2013. Konsumsi Buah di Indonesia Masih Rendah. http://www.antaranews.com/berita/382714/konsumsi-buah-di-indonesia-masih-rendah. Diakses tanggal 23 September 2013.
Ruel, M.T., N. Minot dan L. Smith, 2005. Patterns and determinants of fruits and vegetable consumption in sub-Saharan Africa. Background paper for the Joint FAO/WHO Workshop on Fruit and Vegetables for Health, 1-3 September, Kobe, Japan.
Witjaksono, F. 2013 dalam M.N. Abdurrahman. 2013. Konsumsi Buah dan Sayur di Indonesia Ketinggalan dari Negara Tetangga. DetikHealth. http://health.detik.com/read/2013/06/28/190119/2287595/763/konsumsi-buah-dan-sayur-di-indonesia-ketinggalan-dari-negara-tetangga. Diakses tanggal 23 September 2013.
World Health Organization. 2003. Promoting Fruit and Vegetable Consumptiona round the World. http://www.who.int/dietphysicalactivity/fruit/en/. Diakses tanggal 1 Juli 2013.
Nuranda, Apri. 2016.”Potensi Tumbuhan Ciplukan (Physalis angulata Linn.) Sebagai antioksidan alami”.1.5-9.
Kementrian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta : Balitbang
Kementrian Kesehatan RI, Badan Penelitian dan Pengembangan Keseharan. 2013. Jakarta : Balitbang.
Wirakusuma, E.S. 2006. Buah dan Sayur untuk Terapi. Jakarta : Penebar Swadaya.

Khomsan, A. 2006. Solusi Makanan Sehat. Jakarta : PT Raja Grafindo. 

Comments

Popular posts from this blog

Tik.. tik.. tik..  Suara pergantian detik itu masih saja terdengar jelas olehku.  Lalu ku lihat jam putih tak ber-angka tertempel di dinding kamar yang bercat putih juga.  'Oh sudah 4 jam berlalu' ku berkata dalam hati.  Ya. Sudah 4 jam berlalu setelah Dia mengatakan bahwa kita tak bisa bersama lagi.  Aku masih saja pada posisi dimana bantal putih tulang pada pangkuanku, rambut tergerai lusuh, dan mata sembab sebesar bola pimpong.  Tik.. tik.. tik..  Suara itu masih ada.  Tapi kali ini, waktu berlalu lebih cepat. Karena 4 jam telah berganti menjadi 4 bulan.  Ya. Jam putih yang menempel pada dinding bercat putih.  Dengan suasana yg sama. Dengan kondisi hati yang sama.  Hatiku bertanya. 'Bagaimana kabarmu wahai hati yg menyakitiku?'  Seketika ku raih hp putihku dan ku buka media yg ku pikir dapat menjadi sedikit obat rinduku pada hati yg menghianatiku.  Senyumannya. Kesejukan wajahnya. Tetap saja m...

Bumi Berteriak dan Langit Menangis

Ku lihat gunung yang tak lagi menjulang berwarna hijau. Ku amati sungai yang tak lagi memperlihatkan ikan-ikan yang sedang berenang. Ku pandangi pantai yang hanya menampakkan tumpukan sampah-sampah. Sementara, Orang-orang duduk santai diteras rumah, sambil mencaci setiap daun yang berguguran. Sementara, Orang-orang elit mondar-mandir sok sibuk, namun menguap ketika sedang rapat. Bahkan, Para pemuda acuh tak acuh dan hanya fokus pada asmara yang membuatnya tak karuan. Padahal, Bumi berteriak meminta perhatian. Langit menangis melihat kedzoliman. Lalu, Tidakkah hatimu tergerak untuk segera bertindak? Kemanakah nuranimu menuntunmu untuk begerak? Wahai manusia, Ulurkan tanganmu untuk sekedar menyentuh tanah untuk mengetahui keadaannya. Langkahkan kakimu untuk sekedar mengamati kondisi sekitarmu. Yang seperti itu sesungguhnya lebih bernilai daripada mencaci dan mencari-cari kesalahan orang lain. Challange 5- #RuangProduktif