Hujan sore itu memang tak sederas biasanya. Hanya mampu menciptakan titik-titik penuh butiran air hujan dikaca jendela kereta.
Sawah-sawah terlihat begitu segar dengan hadirnya hujan yang begitu lembut jatuh dari langit yang sedikit gelap. Anak-anak kecil pun terlihat sesekali keluar rumah hanya untuk sekedar bermain percikan air depan teras rumahnya.
Sore itu memang tak jauh berbeda dengan biasanya. Hanya saja hujan membuat perjalananku dari kota metropolitan ke kota apel sedikit lebih syahdu. Ditambah dengan suasana lucu dan haru didepan tempat dudukku. Putri kecil kriwil berbaju pink senada dengan mamanya. Rambut itu kemudian diikat rapi, daripada terlihat mekar dan tak karuan, lebih baik memang diikat (mbatinku). Putri itu sungguh aktif dengan mengajak mamanya bernincang walaupun sangat terlihat wajah letoh dan lelah mamanya.
Seketika anak itu menarik kaki mamanya tepat diatas pangkuannya. Dan meminta sedikit minyak oles yang dioleskan ke telapak kaki mamanya dan memijatnya.
"Ah putri yang sungguh manis". Kataku dalam hati.
Satu gigi atas depannya terlihat baru saja dicopot. Sehingga terlihat sungguh lucu ketika dia tertawa. Namun terlihat begitu manis ketika tersenyum, dengan lesung pipinya.
Ah suasana ini tak jauh berbeda dengan perjalanan satu tahun silam.
Bedanya hanya, tidak adanya pundak dan dada yang lapang yang bisa sesekali kugunakan untuk menghilangkan kepenatan perjalanan ini setelah berjuang.
Bedanya hanyalah, tidak adanya kawan bicara, yang tak pernah bosan mendengarkan keluh dan kesalku selama perjalanan.
Bedanya adalah, tidak ada yang dapat ku genggam tangannya, untuk sedikit mengurangi dinginnya AC dan hujan diluar sana.
Sore itu memang tak jauh berbeda dengan biasanya. Hanya saja hujan membuat perjalananku dari kota metropolitan ke kota apel sedikit lebih syahdu. Ditambah dengan suasana lucu dan haru didepan tempat dudukku. Putri kecil kriwil berbaju pink senada dengan mamanya. Rambut itu kemudian diikat rapi, daripada terlihat mekar dan tak karuan, lebih baik memang diikat (mbatinku). Putri itu sungguh aktif dengan mengajak mamanya bernincang walaupun sangat terlihat wajah letoh dan lelah mamanya.
Seketika anak itu menarik kaki mamanya tepat diatas pangkuannya. Dan meminta sedikit minyak oles yang dioleskan ke telapak kaki mamanya dan memijatnya.
"Ah putri yang sungguh manis". Kataku dalam hati.
Satu gigi atas depannya terlihat baru saja dicopot. Sehingga terlihat sungguh lucu ketika dia tertawa. Namun terlihat begitu manis ketika tersenyum, dengan lesung pipinya.
Ah suasana ini tak jauh berbeda dengan perjalanan satu tahun silam.
Bedanya hanya, tidak adanya pundak dan dada yang lapang yang bisa sesekali kugunakan untuk menghilangkan kepenatan perjalanan ini setelah berjuang.
Bedanya hanyalah, tidak adanya kawan bicara, yang tak pernah bosan mendengarkan keluh dan kesalku selama perjalanan.
Bedanya adalah, tidak ada yang dapat ku genggam tangannya, untuk sedikit mengurangi dinginnya AC dan hujan diluar sana.

Comments
Post a Comment