Pemanfaatan Kompos TKT (Tandan Kosong dan Trichoderma spp.) sebagai Media Optimalisasi Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dalam Menyongsong Masa Depan Emas Indonesia
Pemanfaatan Kompos
TKT (Tandan Kosong dan Trichoderma spp.)
sebagai Media Optimalisasi Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dalam Menyongsong
Masa Depan Emas Indonesia
Wirdatun Nafisah1, Tri Kurniawati Sholeha2, Nanda
Dwi Kristanti3
Abstrak
Tandan
Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit (LCPMKS)
mengandung unsur hara tinggi yang
penting untuk kondisi tanah perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) itu sendiri.
Saat ini, pengolahan atau pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit (E. guineensis) kurang
optimal. Tujuan karya tulis ini adalah mengoptimalisasi kualitas dan hasil
perkebunan kelapa sawit (E.
guineensis) dengan pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit (E. Guineensis). Pengolahan TKKS
dan LCPMKS menjadi kompos berfungsi untuk konservasi tanah perkebunan kelapa
sawit (E.
guineensis). Kompos ini diolah dengan mengkombinasi kotoran ayam
dan jamur Trichoderma spp. dengan menggunakan Efektif Mikroorganisme (EM-4) yang berfungsi
mempercepat proses dekomposisi tandan kosong. Proses pengolahan ini diawali
dengan fermentasi EM-4 untuk mengaktifkan mikroba yang dorman. Setelah proses
fermentasi dilanjutkan dengan proses
inokulasi, yaitu penambahan bahan kondisioner berupa kotoran ayam sebanyak 33%/ cacahan, 24L
LCPMKS, dan EM-4 dengan dosis 20ml/L sebanyak 0,1%/ton cacahan. Selanjutnya proses
inkubasi dengan ditutupnya kompos menggunakan plastik selama 8 minggu.
Proses terakhir adalah penambahan jamur Trichoderma spp. sebagai jamur
antagonis Ganoderma sp. yang menyebabkan penyakit busuk pangkal batang
kelapa sawit (E.
guineensis). Kandungan unsur hara yang dihasilkan oleh kompos
pengolahan tandan kosong ini berupa N sebesar 6,79%, P sebesar 3,13%, K sebesar
8,54% dan keasaman kompos ini sebesar 9,59. Kandungan tersebut sangat
berpotensi untuk menanggulangi dan mencegah kerusakan lahan perkebunan kelapa
sawit. Penambahan jamur Trichoderma spp. berguna mencegah dan mengobati salah
satu penyakit tanaman kelapa sawit sehingga kualitas tanaman dan hasil
perkebunan kelapa sawit (E.
guineensis) dapat diperolah secara maksimal.
Kata Kunci
: EM-4, kelapa sawit, kompos, TKKS, Trichoderma
spp.
PENDAHULUAN
Industri kelapa sawit (E. guineensis) merupakan salah satu
industri yang berkembang pesat pada dua dekade terakhir. Industri
ini
diproyeksikan masih akan tetap menjadi salah satu primadona dalam subsektor
perkebunan pada masa mendatang sekaligus menjadikan indonesia masuk dalam 7
besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030 (Voaindonesia, 2012). Hal tersebut menjadikan perkebunan
kelapa sawit (E. guineensis) saat
ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan devisa negara dan kesejahteraan rakyat sehingga
penanaman dan hasil perkebunan kelapa sawit harus maksimal. Memerlukan lahan yang luas dan lahan yang baik untu
kmewujudkannya, karena lahan yang luas saja tidak dapat menjamin hasil yang
maksimal jika lahan telah mengalami degradasi.
Tanah
yang telah mengalami degradasi tidak mampu memberikan dukungan yang optimal
terhadap perkembangan tumbuhan kelapa sawit
(E. guineensis) dibandingkan tanah yang tidak mengalami degradasi.
Degradasi tanah terjadi akibat penurunan elemen-elemen penting
penyusun tanah serta penurunan kemampuan dalam menyokong ekosistem tanah.
Degradasi tanah secara fisik akan mempengaruhi struktur tanah, kemampuan tanah
dalam menyerap air dan udara, dan ketahanan terhadap penghancuran oleh aliran
air dan udara, sifat keasaman tanah (pH), menurunkan ketersediaan dan kemudahan
penggunaan nutrisi bagi tanaman, kemampuan untuk memusnahkan racun bagi
organisme lain, dan menurunkan peningkatan berlebihan kadar garam pada zona
perakaran tanaman, mempengaruhi ketersediaan karbon organik tanah, meningkatkan
populasi patogen (Suntoro, 2009). Patogen tular tanah salah satunya adalah Ganoderma
sp., yang umumnya terjadi karena rendahnya keberagaman biota tanah di sekitar
tumbuhan kelapa sawit (E. guineensis) dan kemampuannya untuk berlindung di dalam akar
dan tunggul kelapa sawit (E. guineensis) (Susanto, dkk., 2014).
Penyelesaian permasalahan Ganoderma sp. di
lapangan sebaiknya ditujukan untuk membersihkan dan mengeradikalisasi sumber
inokulum potensial yang bertahan di bawah permukaan tanah. Keberadaan patogen ini
dapat diatasi dengan aplikasi teknik rotasi tanaman. Rotasi tanaman berhasil
bila kategori patogen yang menginfeksi berada pada fase saprofitik, patogen bertahan dalam
substrat, bila substrat itu musnah
maka demikian pula dengan patogennya. Namun rotasi tanaman tidak berguna bila
kategori patogen yang menginfeksi
memproduksi spora yang mampu bertahan lebih dari 5-6 tahun di dalam
tanah atau lebih lama dari masa rotasi tanaman itu sendiri (Sawitindonesia, 2014).
Namun solusi ini kurang efektif karena membutuhkan waktu yang lama dalam
pengaplikasikannya, padahal kebutuhan kelapa sawit (E. guineensis) berkembang pesat. Bila demikian, untuk mengendalikan soil
inhabitant, diperlukan
alternatif lain untuk menekan pertumbuhan Ganoderma sp., yakni menggunakan
agen hayati seperti Trichoderma spp. yang bersifat antagonis terhadap
patogen Ganoderma sp.. Selain
bersifat antagonis
terhadap patogen tular tanah, Trichoderma spp.
juga mampu
menginduksi ketahanan tanaman terhadap
berbagai penyakit dan meningkatkan pertumbuhan
tanaman (Nurahmi, 2012).
Disamping
permasalahan lahan perkebunan kelapa sawit (E.
guineensis) yang kurang baik, daya
saing komoditas kelapa sawit di pasar internasional masih lemah.
Salah satu strategi kunci yang diyakini mampu meningkatkan daya saing adalah
dengan perbaikan teknologi, baik pada tingkat on farm maupun off farm,
termasuk juga yang berkaitan dengan pengelolaan Iimbah. Dengan meningkatnya pabrik pengolahan kelapa
sawit, tidak dipungkiri menyebabkan
permasalahan limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Limbah yang dihasilkan dari pengolahan kelapa
sawit (E.
guineensis) adalah limbah cair dan limbah
padat. Limbah cair industri kelapa sawit (E. guineensis) berpotensi
mencemari air dan tanah. Namun kandungannya yang kaya akan unsur nitrogen, fosfor,
kalium, magnesium dan kalsium yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman dapat
menjadikannya sebagai alternatif pupuk organik dalam perkebunan kelapa sawit.
Selain itu, limbah padat dari perkebunan kelapa sawit (E.
guineensis) seperti tandan kosong atau yang sering disebut EFB (Empty Fresh Bunch) juga dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik perkebunan kelapa sawit (E.
guineensis) karena kemampuannya yang kuat dapat menyerap dan
menyimpan air (Sentana dkk., 2010). TKKS merupakan limbah utama kelapa sawit (E. guineensis) yang dihasilkan dari pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) melalui perebusan dan
pemisahan antara serat tandan dengan berondolan. Basis 1 ton TBS dapat menghasilkan 0,21 ton (21%) minyak sawit kasar
(CPO), 0,05 ton (5%) minyak inti sawit (PKO) dan sisanya merupakan limbah 23%
tandan kosong, 13,5% serat dan 5,5% cangkang biji (Anwar, 2008). Pengolahan
limbah industri maupun perkebunan kelapa sawit (E.
guineensis) dapat mengatasi
masalah degradasi tanah dan meningkatkan daya saing komoditas kelapa sawit (E.
guineensis).
Masyarakat
daerah perkebunan kelapa sawit selain bekerja pada sektor perkebunan juga
bekerja pada sektor peternakan. Peternakan
hewan setiap harinya akan menghasilkan kotoran ternak. Kotoran ternak
lebih kaya akan berbagai unsur hara dan kaya akan mikrobia, dibanding dengan limbah
pertanian (Hapsari, 2013). Kadar hara kotoran
ternak berbeda-beda tergantung
jenis makanannya. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat
menghasilkan beberapa
unsur hara yang sangat dibutuhkan
tanaman. Pupuk kandang di
samping menghasilkan unsur
hara makro juga menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo, Mn, Cu, dan Mo. Unsur Fe,
Zn, Bo, MN, Cu, dan Mo yang ada meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah
yang akan bereaksi dengan ion logam yang meracuni tanaman atau menghambat penyediaan
hara seperti Al, Fe, dan Mn sehingga dapat dikurangi (Hapsari, 2013). Unsur
hara makro dan mikro sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.
Penulis memilih pupuk kandang
dari kotoran ayam karena beberapa hasil penelitian
aplikasi pupuk kandang ayam selalu memberikan respon tanaman yang terbaik
pada musim pertama. Hal ini terjadi karena pupuk kandang ayam relatif lebih cepat
terdekomposisi serta mempunyai kadar hara yang cukup pula jika dibandingkan dengan
jumlah unit yang sama dengan pupuk kandang lainnya (Hartatik dan
Widowati, 2010).
Maka,
penulis tertarik untuk mengkombinasikan olahan limbah kelapa sawit (E. guineensis), kotoran
ayam dan jamur Trichoderma spp. sebagai inovasi terbarukan
dalam mengatasi degradasi tanah, pemuliaan lahan serta peningkatan kualitas dan
kuantitas kelapa
sawit (E. guineensis).
METODE
a.
Bahan
TKKS, LCPMKS, jamur
Trichoderma spp., EM-4,
gula merah, kotoran ayam,
dan
air.
b. Metode
Pengolahan
TKKS menjadi kompos dimulai
dengan persiapan bahan-bahan yang akan digunakan. EM-4 yang masih berada dalam
keadaan tidur (dormant) diaktifkan
dengan cara penambahan
air dan larutan gula merah dengan perbandungan 1 : 100 ( 200 ml EM-4 + 200 ml
larutan gula merah + 20.000 ml air), kemudian botol ditutup rapat dan disimpan
di ruang gelap selama 3 hari agar proses fermentasi terjadi dengan baik (Suherman
dkk., 2014). Setelah semua bahan siap dilakukan
pencacahan TKKS
dengan ukuran yang disarankan
± 5cm. Pencacahan yang dilakukan bertujuan untuk memperluas area bahan sehingga
mempercepat proses dekomposisi oleh mikroba pengurai dan mengurangi kadar air yang
terkandung dalam TKKS.
Selanjutnya dilakukan proses inokulasi, yaitu penambahan bahan kondisioner
berupa kotoran ayam sebanyak 33%/ton
cacahan, 24L LCPMKS, dan EM-4 dengan dosis 20ml/L sebanyak 0,1%/ton cacahan.
Setelah bahan-bahan kondisioner dimasukkan dilakukan pengadukan agar bahan
tercampur rata. Tujuan dari penambahan bahan kondisioner adalah untuk
menciptakan kondisi ideal bagi bakteri pengompos agar proses pengomposan
berjalan dengan optimal. Berikutnya kompos diinkubasi dengan cara ditutup
terpal plastik yang bertujuan menjaga kelembaban, suhu kompos, dan tidak
terjadi penguapan hara yang telah terbentuk. Proses fermentasi berlangsung
secara aerob selama 8 minggu untuk mendapatkan sifat kimia terbaik (Toiby,
dkk., 2015). Kompos yang telah melalui proses fermentasi akan berwarna coklat
tua sampai hitam kecoklatan, berstruktur gembur, kandungan hara seimbang, bau kompos seperti bau tanah, mempunyai kadar C
minimal 20% yang menandakan bahwa kompos telah matang (Etikha, 2015).
Tahap terakhir yaitu penambahan jamur Trichoderma
spp. sebagai antagonis jamur Ganoderma
sp. pada akar tumbuhan kelapa
sawit (E. Guineensis). Terakhir,
kompos dapat diaplikasikan ke perkebunan kelapa sawit terutama perkebunan
dengan keadaan tanah yang telah terdegradasi dan pohon kelapa sawit yang mengalami penyakit
busuk pangkal.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Menurut Darmosarkoro dan Winarna
(2007), kandungan penyusun TKKS
meliputi 45,9% selulosa, 46,5% hemiselulosa, dan 22,8% lignin. Unsur hara yang
terkandung dalam TKKS
antara lain N, P, K dan Mg. Kandungan N
pada tandan kosong setara dengan 8,00 kg pupuk urea, unsur P setara dengan 2,90
kg RP, unsur K setara dengan 18,30 kg MOP, dan unsur Mg setara dengan 5,00 kg
kieserit (Pahang, 2010). TKKS
memiliki kemampuan menyerap dan meyimpan air yang tinggi sehingga dapat
mempertahankan kelembaban
lingkungan mikro disekitarnya. Kandungan-kandungan yang dimiliki oleh TKKS
dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk anorganik sehingga dapat mengurangi
penekanan terhadap penggunaan pupuk anorganik dan dapat mengurangi biaya
pemupukan perkebunan kelapa sawit.
TKKS
memiliki daya serap dan penyimpanan air yang tinggi, namun untuk diolah
menjadi kompos memerlukan proses
dekomposisi dan mineralisasi yang lama karena kandungan selulosa, hemiselulosa dan
ligninnya yang tinggi. Sehingga, cara mempercepat dekomposisi TKKS tersebut
adalah dengan penambahan bioaktivator.
Pemberian EM-4 adalah salah
satu upaya meningkatkan jumlah dan jenis mikroorganisme yang berperan dalam
dekomposisi sehingga dapat mempercepat proses pengomposan atau fermentasi TKKS (Ichwan, 2007).
Menurut
Toiby, dkk. (2015), penambahan EM-4 20
mL/L sebanyak 0,1%/ton
cacahan dan 33%/cacahan kotoran ayam dalam proses pembuatan kompos TKKS dengan waktu 8 minggu merupakan
hasil terbaik dari beberapa perlakuan penelitian yang telah dilakukan. Beberapa
perlakuan tersebut yang dilakukan diantaranya dengan perbedaan takaran EM-4
yang diberikan, yaitu 0 mL/L, 10 mL/L dan 20 mL/L. Selain perbedaan takaran EM-4, juga perbedaan
estimasi waktu fermentasi, yaitu 4, 6, 8, 10 minggu. Kandungan N, P dan K beserta nilai
keasaman kompos yang diperoleh dari hasil terbaik adalah sebagai berikut. Unsur
N yang dihasilkan pada proses ini
sebanyak 6,79%. Persentase nilai N total pada kompos ini dinilai lebih tinggi
dari pada hasil penelitian Yunindanova (2009) yang hanya mengandung 1% nilai N
total. Peningkatan unsur N ini dikarenakan kenaikan dosis EM-4, nilai pH dan lamanya waktu
fermentasi kompos. Kandungan P yang terkandung dalam kompos ini adalah 3,13%,
kandungan K sebesar 8,54%. Nilai keasamaan kompos ini sebesar 9,59 yang
merupakan rata-rata dari 3 perlakuan pemberian dosis EM-4 yang berbeda-beda.
Penambahan
jamur Trichoderma spp. pada kompos TKKS sebagai
antagonis jamur Ganoderma sp. adalah
tahap selanjutnya. Jamur Trichoderma spp. dicampur dengan kompos tandan kosong dan kemudian ditabur pada
seluruh permukaan tanah pohon kelapa sawit (E. guineensis)
terutama tiap pokok terinfeksi. Agen hayati Trichoderma
spp. dipilih sebagai
jamur antagonis Ganoderma sp. karena pertumbuhannya cepat, dapat
dikulturkan dengan baik dalam biakan
maupun alami. Selain itu, jamur ini juga dapat bertahan hidup dalam
kondisi yang tidak menguntungkan dengan membentuk klamidospora dan cukup tahan
terhadap fungisida dan herbisida (Berlian, dkk., 2013).
Trichoderma spp. menghasilkan senyawa volatil yang bersifat fungistatik terhadap Ganoderma
sp.. Pelibatan metabolit beracun (toksin) atau enzim ekstraseluler dalam
mekanisme antibiosis yang dihasilkan oleh fungi antagonis (Achmad, dkk., 2010).
Selain itu, peran antagonis Trichoderma spp. terhadap Ganoderma spp.
disebabkan karena kemampuan pertumbuhan koloni Trichoderma spp. lebih
cepat dan kemampuan kompetisi Trichoderma spp. lebih tinggi dari pada Ganoderma
sp. (Siddiquee, dkk., 2009). Pemberian
jamur Trichoderma spp. ini dimaksudkan agar mencegah maupun mengobati penyakit busuk
pangkal batang kelapa sawit oleh jamur Ganoderma sp.. Penyakit ini memiliki
gejala serangan daun patah dan menggantung, mongering dan mati, mulai muncul
miselium pada pangkal batang, terdapat tubuh buah pada pangkal batang serta
lebih dari dua daun tombak tidak membuka (Simangunsong, 2011).
KESIMPULAN
Berdasarkan
data yang diperoleh diketahui bahwa limbah padat kelapa sawit yang berupa TKKS
dan LCPMKS dapat dimanfaatkan menjadi kompos karena kandungan unsur hara berupa
N, P, K dan Mg. EM-4 20ml/L yang ditambahkan selama proses pengomposan berguna
sebagai bioaktivator
yang dapat mempercepat perkembangan populasi mikroorganisme bersama kotoran
ayam sebagai penunjang unsur hara sehingga fermentasi kompos hanya membutuhkan waktu 8
minggu untuk memperoleh hasil optimal. Pemberian jamur Trichoderma spp.
menambah nilai guna kompos karena Trichoderma
spp. merupakan antagonis
bagi jamur Ganoderma sp., penyebab penyakit busuk pangkal yang banyak
menyerang pohon kelapa sawit (E. guineensis). Kompos ini
memiliki keunggulan tidak
hanya memperbaiki kualitas lahan perkebunan namun juga meningkatkan kuantitas
dan kualitas kelapa sawit (E. guineensis).
#RuangProduktif
DAFTAR PUSTAKA
Achmad,
S. Hadi, S. Harran, E.S Gumbira, B. Satiawiharja, dan M.K Kardin. 2010.
Aktifitas Antagonisme In-Vitro Trichoderma harzianum dan Trichoderma pseudokoningii terhadap
Patogen Lodoh Pinus merkusii. Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman. 7 (5) : 233-240.
Anwar,
K. 2008. Optimasi Suhu dan Konsentrasi
Sodium Bisulfit (NaHSO3) pada Proses Pembuatan Sodium Lignosulfonat Berbasis
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor, Bogor. 87 Hal.
Berlian,
Intan, Budi Setyawan, dan Hananto Adi. 2013. Mekanisme Antagonisme Trichoderma spp. terhadap beberapa
Patogen Tular Tanah. Warta Perkaretan. 32
(2) : 74-82.
Dewantoro,D. 2014. Sawitindonesia.com/rubrikasi_majalah/peneliti_balai_penelitian_bioteknologi_perkebunan_indonesia_pilihan. Diakses pada 5 Agustus
2016.
Ethika,
Adhe P W. 2015. Teknis Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit. http://babel.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=359:teknik-pengomposan-tandan-kosong-kelapa-sawit&catid=15:info-teknologi.
Diakses pada 2 Agustus 2016.
Hapsari,A,Y.
2013. Kualitas Dan Kuantitas Kandungan Pupuk Organik Limbah Serasah
dengan Inokulum Kotoran Sapi Secara Semianaerob.Universitas
Muhammadiyah Surakarta:Surakarta.
Hartatik,W. dan L.R.Widowati, 2010. Pupuk Kandang. http://www.balittanah.litbang.deptn.go.id. Diakses pada 3 Agustus
2016.
Ichwan,
B. 2007. Pertumbuhan dan Hasil Jagung
Manis (Zea mays Saccharata Sturry) pada Berbagai Konsentrasi Efektif
Mikroorganisme-4 (EM4) dan Waktu Fermentasi Janjang Kelapa Sawit. Jurnal Agronomi. 11 (7) : 91-94.
Nurahmi,E.,Susanna.,Sriwati R.2012.Pengaruh
Trichoderma Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Bibit Kakao,Tomat,dan
Kedelai.Florantek(7):57-65.
Pahang, I. 2010. Panduan Lengkap
Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sentana,S.,
Suyamto.,M.A., Suprapedi.Sudiyana. 2010. Pengembangan dan Inokulum untuk
Pengomposan Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit. Rekayasa Proses (4) : 35-39.
Siddique,
S. U.K Yusuf, K. Hossain, dan S. Jahan. 2009. In-vitro studies on the potential Trichoderma harzianum for
antagonistic properties against Ganoderma boninense. Journal of food,
Agriculture and Environment. 7 (3 dan 4) : 970-976.
Simangunsong,
Zenyferd. 2011. Konservasi Tanah dan Air pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Skripsi.
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Suherman,
Irawati, Amir Awaluddin, dan Itnawita. 2014. Analisis Kualitas Kompos dari
Campuran Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Kotoran Ayam menggunakan Limbah Cair
Pabrik Kelapa Sawit dan EM-4. JOM FMIPA.
1 (2) : 195-204.
Suntoro. 2009. www.staff.uns.ac.id/files. Diakses pada
tanggal 9 Agustus 2016.
Susanto,
A., Prasetyo A. E,
Wenin S. 2013. Laju Infeksi Ganoderma pada
Empat Kelas Tekstur Tanah.
Fitopatologi Indonesia. (9)
: 39-46.
Toiby,
Abdur Rahman, Elfi Rahmadani, dan Oksana. 2015. Perubahan Sifat Kimia Tandan
Kosong Kelapa Sawit yang Difermentasi dengan EM4 pada Dosis dan Lama Pemeraman
yang Berbeda. Jurnal Agroteknologi. 6
(1) : 1-8.
Triyono,
L. 2012. www.voanindonesia.com/a/indonesia-bisa-jadi-kekuatan-kekuatan-ekonomi-no-7-dunia/1525105.html. Diakses pada 5 Agustus 2016.
Yunindanova.
2009. Tingkat Pematangan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Penggunaan
Berbagai Jenis Mulsa terhadap Tumbuhan dan Produksi Tanaman Tamat (Lycopersicon esculentun Mill) dan Cabai
(Capsicum annum L.) Skripsi. Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor. 76 Hal.
Comments
Post a Comment