Skip to main content

Pemanfaatan Kompos TKT (Tandan Kosong dan Trichoderma spp.) sebagai Media Optimalisasi Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dalam Menyongsong Masa Depan Emas Indonesia

Pemanfaatan Kompos TKT (Tandan Kosong dan Trichoderma spp.) sebagai Media Optimalisasi Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dalam Menyongsong Masa Depan Emas Indonesia
Wirdatun Nafisah1, Tri Kurniawati Sholeha2, Nanda Dwi Kristanti3
Abstrak
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Limbah Cair Pabrik Minyak Kelapa Sawit (LCPMKS) mengandung unsur hara  tinggi yang penting untuk kondisi tanah perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) itu sendiri. Saat ini, pengolahan atau pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit (E. guineensis) kurang optimal. Tujuan karya tulis ini adalah mengoptimalisasi kualitas dan hasil perkebunan kelapa sawit (E. guineensis) dengan pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit (E. Guineensis). Pengolahan TKKS dan LCPMKS menjadi kompos berfungsi untuk konservasi tanah perkebunan kelapa sawit (E. guineensis). Kompos ini diolah dengan mengkombinasi kotoran ayam dan jamur Trichoderma spp. dengan menggunakan Efektif Mikroorganisme (EM-4) yang berfungsi mempercepat proses dekomposisi tandan kosong. Proses pengolahan ini diawali dengan fermentasi EM-4 untuk mengaktifkan mikroba yang dorman. Setelah proses fermentasi dilanjutkan dengan proses inokulasi, yaitu penambahan bahan kondisioner berupa kotoran ayam sebanyak 33%/ cacahan, 24L LCPMKS, dan EM-4 dengan dosis 20ml/L sebanyak 0,1%/ton cacahan. Selanjutnya proses inkubasi dengan ditutupnya kompos menggunakan plastik selama 8 minggu. Proses  terakhir adalah penambahan jamur Trichoderma spp. sebagai jamur antagonis Ganoderma sp. yang menyebabkan penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit (E. guineensis). Kandungan unsur hara yang dihasilkan oleh kompos pengolahan tandan kosong ini berupa N sebesar 6,79%, P sebesar 3,13%, K sebesar 8,54% dan keasaman kompos ini sebesar 9,59. Kandungan tersebut sangat berpotensi untuk menanggulangi dan mencegah kerusakan lahan perkebunan kelapa sawit. Penambahan jamur Trichoderma  spp. berguna mencegah dan mengobati salah satu penyakit tanaman kelapa sawit sehingga kualitas tanaman dan hasil perkebunan kelapa sawit (E. guineensis) dapat diperolah secara maksimal.
Kata Kunci : EM-4, kelapa sawit, kompos, TKKS, Trichoderma spp.





PENDAHULUAN
Industri kelapa sawit (E. guineensis) merupakan salah satu industri yang berkembang pesat pada dua dekade terakhir. Industri ini diproyeksikan masih akan tetap menjadi salah satu primadona dalam subsektor perkebunan pada masa mendatang sekaligus menjadikan indonesia masuk dalam 7 besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030 (Voaindonesia, 2012). Hal tersebut menjadikan perkebunan kelapa sawit (E. guineensis)  saat ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan devisa negara dan kesejahteraan rakyat sehingga penanaman dan hasil perkebunan kelapa sawit harus maksimal. Memerlukan  lahan yang luas dan lahan yang baik untu kmewujudkannya, karena lahan yang luas saja tidak dapat menjamin hasil yang maksimal jika lahan telah mengalami degradasi.
Tanah yang telah mengalami degradasi tidak mampu memberikan dukungan yang optimal terhadap perkembangan tumbuhan kelapa sawit (E. guineensis)  dibandingkan tanah yang tidak mengalami degradasi. Degradasi tanah terjadi  akibat penurunan elemen-elemen penting penyusun tanah serta penurunan kemampuan dalam menyokong ekosistem tanah. Degradasi tanah secara fisik akan mempengaruhi struktur tanah, kemampuan tanah dalam menyerap air dan udara, dan ketahanan terhadap penghancuran oleh aliran air dan udara, sifat keasaman tanah (pH), menurunkan ketersediaan dan kemudahan penggunaan nutrisi bagi tanaman, kemampuan untuk memusnahkan racun bagi organisme lain, dan menurunkan peningkatan berlebihan kadar garam pada zona perakaran tanaman, mempengaruhi ketersediaan karbon organik tanah, meningkatkan populasi patogen (Suntoro, 2009). Patogen tular tanah salah satunya adalah Ganoderma sp., yang umumnya terjadi karena rendahnya keberagaman biota tanah di sekitar tumbuhan kelapa sawit (E. guineensis) dan  kemampuannya untuk berlindung di dalam akar dan tunggul kelapa sawit (E. guineensis) (Susanto, dkk., 2014). Penyelesaian permasalahan Ganoderma  sp. di lapangan sebaiknya ditujukan untuk membersihkan dan mengeradikalisasi sumber inokulum potensial yang bertahan di bawah permukaan tanah. Keberadaan patogen ini dapat diatasi dengan aplikasi teknik rotasi tanaman. Rotasi tanaman berhasil bila kategori patogen yang menginfeksi berada pada fase saprofitik, patogen bertahan dalam substrat, bila substrat itu musnah maka demikian pula dengan patogennya. Namun rotasi tanaman tidak berguna bila kategori patogen yang menginfeksi  memproduksi spora yang mampu bertahan lebih dari 5-6 tahun di dalam tanah atau lebih lama dari masa rotasi tanaman itu sendiri (Sawitindonesia, 2014). Namun solusi ini kurang efektif karena membutuhkan waktu yang lama dalam pengaplikasikannya, padahal kebutuhan kelapa sawit (E. guineensis)   berkembang pesat. Bila demikian, untuk mengendalikan soil inhabitant, diperlukan alternatif lain untuk menekan pertumbuhan Ganoderma sp., yakni menggunakan agen hayati seperti Trichoderma spp. yang bersifat antagonis terhadap patogen Ganoderma sp.. Selain bersifat antagonis terhadap patogen tular tanah, Trichoderma spp. juga mampu menginduksi ketahanan tanaman terhadap berbagai penyakit dan meningkatkan pertumbuhan tanaman (Nurahmi, 2012).
  Disamping permasalahan lahan perkebunan kelapa sawit (E. guineensis) yang kurang baik, daya saing komoditas  kelapa sawit di pasar internasional masih lemah. Salah satu strategi kunci yang diyakini mampu meningkatkan daya saing adalah dengan perbaikan teknologi, baik pada tingkat on farm maupun off farm, termasuk juga yang berkaitan dengan pengelolaan Iimbah. Dengan meningkatnya pabrik pengolahan kelapa sawit, tidak dipungkiri menyebabkan permasalahan limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Limbah yang dihasilkan dari pengolahan kelapa sawit (E. guineensis) adalah limbah cair dan limbah padat. Limbah cair industri kelapa sawit (E. guineensis) berpotensi mencemari air dan tanah. Namun kandungannya yang kaya akan unsur nitrogen, fosfor, kalium, magnesium dan kalsium yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman dapat menjadikannya sebagai alternatif pupuk organik dalam perkebunan kelapa sawit. Selain itu, limbah padat dari perkebunan kelapa sawit (E. guineensis) seperti tandan kosong atau yang sering disebut EFB (Empty Fresh Bunch) juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik perkebunan kelapa sawit (E. guineensis) karena kemampuannya yang kuat dapat menyerap dan menyimpan air (Sentana dkk., 2010). TKKS merupakan limbah utama kelapa sawit (E. guineensis)  yang dihasilkan dari pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) melalui perebusan dan pemisahan antara serat tandan dengan berondolan. Basis 1 ton TBS dapat menghasilkan 0,21 ton (21%) minyak sawit kasar (CPO), 0,05 ton (5%) minyak inti sawit (PKO) dan sisanya merupakan limbah 23% tandan kosong, 13,5% serat dan 5,5% cangkang biji (Anwar, 2008). Pengolahan limbah industri maupun perkebunan kelapa sawit (E. guineensis) dapat mengatasi masalah degradasi tanah dan meningkatkan daya saing komoditas kelapa sawit (E. guineensis).
Masyarakat daerah perkebunan kelapa sawit selain bekerja pada sektor perkebunan juga bekerja pada sektor peternakan. Peternakan hewan setiap harinya akan menghasilkan kotoran ternak. Kotoran ternak lebih kaya akan berbagai unsur hara dan kaya akan mikrobia, dibanding dengan limbah pertanian (Hapsari, 2013). Kadar hara kotoran ternak berbeda-beda tergantung jenis makanannya. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat menghasilkan beberapa unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman. Pupuk kandang di samping menghasilkan unsur hara makro juga menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo, Mn, Cu, dan Mo. Unsur Fe, Zn, Bo, MN, Cu, dan Mo yang ada meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah yang akan bereaksi dengan ion logam yang meracuni tanaman atau menghambat penyediaan hara seperti Al, Fe, dan Mn sehingga dapat dikurangi (Hapsari, 2013). Unsur hara makro dan mikro sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.
Penulis memilih pupuk kandang dari kotoran ayam karena beberapa hasil penelitian aplikasi pupuk kandang ayam selalu memberikan respon tanaman yang terbaik pada musim pertama. Hal ini terjadi karena pupuk kandang ayam relatif lebih cepat terdekomposisi serta mempunyai kadar hara yang cukup pula jika dibandingkan dengan jumlah unit yang sama dengan pupuk kandang lainnya (Hartatik dan Widowati, 2010).
Maka, penulis tertarik untuk mengkombinasikan olahan limbah kelapa sawit (E. guineensis), kotoran ayam dan jamur Trichoderma spp. sebagai inovasi terbarukan dalam mengatasi degradasi tanah, pemuliaan lahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas kelapa sawit (E. guineensis).



METODE
a.    Bahan
TKKS, LCPMKS, jamur Trichoderma spp., EM-4, gula merah, kotoran ayam, dan air.

b.    Metode
Pengolahan TKKS menjadi kompos dimulai dengan persiapan bahan-bahan yang akan digunakan. EM-4 yang masih berada dalam keadaan tidur (dormant) diaktifkan dengan cara penambahan air dan larutan gula merah dengan perbandungan 1 : 100 ( 200 ml EM-4 + 200 ml larutan gula merah + 20.000 ml air), kemudian botol ditutup rapat dan disimpan di ruang gelap selama 3 hari agar proses fermentasi terjadi dengan baik (Suherman dkk., 2014). Setelah semua bahan siap dilakukan pencacahan TKKS dengan ukuran yang disarankan ± 5cm. Pencacahan yang dilakukan bertujuan untuk memperluas area bahan sehingga mempercepat proses dekomposisi oleh mikroba pengurai dan mengurangi kadar air yang terkandung dalam TKKS. Selanjutnya dilakukan proses inokulasi, yaitu penambahan bahan kondisioner berupa kotoran ayam sebanyak 33%/ton cacahan, 24L LCPMKS, dan EM-4 dengan dosis 20ml/L sebanyak 0,1%/ton cacahan. Setelah bahan-bahan kondisioner dimasukkan dilakukan pengadukan agar bahan tercampur rata. Tujuan dari penambahan bahan kondisioner adalah untuk menciptakan kondisi ideal bagi bakteri pengompos agar proses pengomposan berjalan dengan optimal. Berikutnya kompos diinkubasi dengan cara ditutup terpal plastik yang bertujuan menjaga kelembaban, suhu kompos, dan tidak terjadi penguapan hara yang telah terbentuk. Proses fermentasi berlangsung secara aerob selama 8 minggu untuk mendapatkan sifat kimia terbaik (Toiby, dkk., 2015). Kompos yang telah melalui proses fermentasi akan berwarna coklat tua sampai hitam kecoklatan, berstruktur gembur, kandungan hara seimbang, bau kompos seperti bau tanah, mempunyai kadar C minimal 20% yang menandakan bahwa kompos telah matang (Etikha, 2015). Tahap terakhir yaitu penambahan jamur Trichoderma spp. sebagai antagonis jamur Ganoderma sp. pada akar tumbuhan kelapa sawit (E. Guineensis). Terakhir, kompos dapat diaplikasikan ke perkebunan kelapa sawit terutama perkebunan dengan keadaan tanah yang telah terdegradasi dan pohon kelapa sawit yang mengalami penyakit busuk pangkal.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Menurut Darmosarkoro dan Winarna (2007), kandungan penyusun TKKS meliputi 45,9% selulosa, 46,5% hemiselulosa, dan 22,8% lignin. Unsur hara yang terkandung dalam TKKS antara lain N, P, K dan Mg.  Kandungan N pada tandan kosong setara dengan 8,00 kg pupuk urea, unsur P setara dengan 2,90 kg RP, unsur K setara dengan 18,30 kg MOP, dan unsur Mg setara dengan 5,00 kg kieserit (Pahang, 2010). TKKS memiliki kemampuan menyerap dan meyimpan air yang tinggi sehingga dapat mempertahankan kelembaban lingkungan mikro disekitarnya. Kandungan-kandungan yang dimiliki oleh TKKS dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk anorganik sehingga dapat mengurangi penekanan terhadap penggunaan pupuk anorganik dan dapat mengurangi biaya pemupukan perkebunan kelapa sawit.
TKKS memiliki daya serap dan penyimpanan air yang tinggi, namun untuk diolah menjadi kompos memerlukan proses dekomposisi dan mineralisasi yang lama karena kandungan selulosa, hemiselulosa dan ligninnya yang tinggi. Sehingga, cara mempercepat dekomposisi TKKS tersebut adalah dengan penambahan bioaktivator. Pemberian EM-4 adalah salah satu upaya meningkatkan jumlah dan jenis mikroorganisme yang berperan dalam dekomposisi sehingga dapat mempercepat proses pengomposan atau fermentasi TKKS (Ichwan, 2007).
Menurut Toiby, dkk. (2015), penambahan EM-4 20 mL/L sebanyak 0,1%/ton cacahan dan 33%/cacahan kotoran ayam dalam proses pembuatan kompos TKKS dengan waktu 8 minggu merupakan hasil terbaik dari beberapa perlakuan penelitian yang telah dilakukan. Beberapa perlakuan tersebut yang dilakukan diantaranya dengan perbedaan takaran EM-4 yang diberikan, yaitu 0 mL/L, 10 mL/L dan 20 mL/L. Selain perbedaan takaran EM-4, juga perbedaan estimasi waktu fermentasi, yaitu 4, 6, 8, 10 minggu. Kandungan N, P dan K beserta nilai keasaman kompos yang diperoleh dari hasil terbaik adalah sebagai berikut. Unsur N   yang dihasilkan pada proses ini sebanyak 6,79%. Persentase nilai N total pada kompos ini dinilai lebih tinggi dari pada hasil penelitian Yunindanova (2009) yang hanya mengandung 1% nilai N total. Peningkatan unsur N ini dikarenakan kenaikan dosis EM-4, nilai pH dan lamanya waktu fermentasi kompos. Kandungan P yang terkandung dalam kompos ini adalah 3,13%, kandungan K sebesar 8,54%. Nilai keasamaan kompos ini sebesar 9,59 yang merupakan rata-rata dari 3 perlakuan pemberian dosis EM-4 yang berbeda-beda.
Penambahan jamur Trichoderma spp. pada kompos TKKS sebagai antagonis jamur Ganoderma sp. adalah tahap selanjutnya. Jamur Trichoderma spp. dicampur dengan kompos tandan kosong dan kemudian ditabur pada seluruh permukaan tanah pohon kelapa sawit (E. guineensis) terutama tiap pokok terinfeksi. Agen hayati Trichoderma spp. dipilih sebagai jamur antagonis Ganoderma sp. karena pertumbuhannya cepat, dapat dikulturkan dengan baik dalam biakan  maupun alami. Selain itu, jamur ini juga dapat bertahan hidup dalam kondisi yang tidak menguntungkan dengan membentuk klamidospora dan cukup tahan terhadap fungisida dan herbisida (Berlian, dkk., 2013).
Trichoderma spp. menghasilkan senyawa volatil yang bersifat fungistatik terhadap Ganoderma sp.. Pelibatan metabolit beracun (toksin) atau enzim ekstraseluler dalam mekanisme antibiosis yang dihasilkan oleh fungi antagonis (Achmad, dkk., 2010). Selain itu, peran antagonis Trichoderma spp. terhadap Ganoderma spp. disebabkan karena kemampuan pertumbuhan koloni Trichoderma spp. lebih cepat dan kemampuan kompetisi Trichoderma spp. lebih tinggi dari pada Ganoderma sp. (Siddiquee, dkk., 2009). Pemberian jamur Trichoderma spp. ini dimaksudkan agar mencegah maupun mengobati penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit oleh jamur Ganoderma sp.. Penyakit ini memiliki gejala serangan daun patah dan menggantung, mongering dan mati, mulai muncul miselium pada pangkal batang, terdapat tubuh buah pada pangkal batang serta lebih dari dua daun tombak tidak membuka (Simangunsong, 2011).


  



KESIMPULAN
          Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa limbah padat kelapa sawit yang berupa TKKS dan LCPMKS dapat dimanfaatkan menjadi kompos karena kandungan unsur hara berupa N, P, K dan Mg. EM-4 20ml/L yang ditambahkan selama proses pengomposan berguna sebagai bioaktivator yang dapat mempercepat perkembangan populasi mikroorganisme bersama kotoran ayam sebagai penunjang unsur hara sehingga fermentasi kompos hanya membutuhkan waktu 8 minggu untuk memperoleh hasil optimal. Pemberian jamur Trichoderma spp. menambah nilai guna kompos karena Trichoderma spp. merupakan antagonis bagi jamur Ganoderma sp., penyebab penyakit busuk pangkal yang banyak menyerang pohon kelapa sawit (E. guineensis). Kompos ini memiliki keunggulan tidak hanya memperbaiki kualitas lahan perkebunan namun juga meningkatkan kuantitas dan kualitas kelapa sawit (E. guineensis).






#RuangProduktif



DAFTAR PUSTAKA
Achmad, S. Hadi, S. Harran, E.S Gumbira, B. Satiawiharja, dan M.K Kardin. 2010. Aktifitas Antagonisme In-Vitro Trichoderma harzianum dan Trichoderma pseudokoningii terhadap Patogen Lodoh Pinus merkusii. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. 7 (5) : 233-240.
Anwar, K.  2008. Optimasi Suhu dan Konsentrasi Sodium Bisulfit (NaHSO3) pada Proses Pembuatan Sodium Lignosulfonat Berbasis Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor. 87 Hal.
Berlian, Intan, Budi Setyawan, dan Hananto Adi. 2013. Mekanisme Antagonisme Trichoderma spp. terhadap beberapa Patogen Tular Tanah. Warta Perkaretan. 32 (2) : 74-82.
Dewantoro,D. 2014. Sawitindonesia.com/rubrikasi_majalah/peneliti_balai_penelitian_bioteknologi_perkebunan_indonesia_pilihan. Diakses pada 5 Agustus 2016.
Hapsari,A,Y. 2013. Kualitas Dan  Kuantitas Kandungan Pupuk Organik Limbah Serasah dengan Inokulum Kotoran Sapi Secara Semianaerob.Universitas Muhammadiyah Surakarta:Surakarta.
Hartatik,W. dan L.R.Widowati, 2010. Pupuk Kandang. http://www.balittanah.litbang.deptn.go.id. Diakses pada 3 Agustus 2016.
Ichwan, B.  2007. Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis (Zea mays Saccharata Sturry) pada Berbagai Konsentrasi Efektif Mikroorganisme-4 (EM4) dan Waktu Fermentasi Janjang Kelapa Sawit. Jurnal Agronomi.  11 (7) : 91-94.
Nurahmi,E.,Susanna.,Sriwati R.2012.Pengaruh Trichoderma Terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhan Bibit Kakao,Tomat,dan Kedelai.Florantek(7):57-65.
Pahang, I. 2010. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sentana,S., Suyamto.,M.A., Suprapedi.Sudiyana. 2010. Pengembangan dan Inokulum untuk Pengomposan Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit. Rekayasa Proses (4) : 35-39.
Siddique, S. U.K Yusuf, K. Hossain, dan S. Jahan. 2009. In-vitro studies on the potential Trichoderma harzianum for antagonistic properties against Ganoderma boninense. Journal of food, Agriculture and Environment. 7 (3 dan 4) : 970-976.
Simangunsong, Zenyferd. 2011. Konservasi Tanah dan Air pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Skripsi. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Suherman, Irawati, Amir Awaluddin, dan Itnawita. 2014. Analisis Kualitas Kompos dari Campuran Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Kotoran Ayam menggunakan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit dan EM-4. JOM FMIPA. 1 (2) : 195-204.
Suntoro. 2009. www.staff.uns.ac.id/files. Diakses pada tanggal 9 Agustus 2016.
Susanto, A., Prasetyo A. EWenin S. 2013. Laju Infeksi Ganoderma pada Empat Kelas Tekstur Tanah. Fitopatologi Indonesia. (9) : 39-46.
Toiby, Abdur Rahman, Elfi Rahmadani, dan Oksana. 2015. Perubahan Sifat Kimia Tandan Kosong Kelapa Sawit yang Difermentasi dengan EM4 pada Dosis dan Lama Pemeraman yang Berbeda. Jurnal Agroteknologi. 6 (1) : 1-8.
Triyono, L. 2012. www.voanindonesia.com/a/indonesia-bisa-jadi-kekuatan-kekuatan-ekonomi-no-7-dunia/1525105.html. Diakses pada 5 Agustus 2016.
Yunindanova. 2009. Tingkat Pematangan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Penggunaan Berbagai Jenis Mulsa terhadap Tumbuhan dan Produksi Tanaman Tamat (Lycopersicon esculentun Mill) dan Cabai (Capsicum annum L.) Skripsi. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor. 76 Hal.

    


Comments

Popular posts from this blog

Tik.. tik.. tik..  Suara pergantian detik itu masih saja terdengar jelas olehku.  Lalu ku lihat jam putih tak ber-angka tertempel di dinding kamar yang bercat putih juga.  'Oh sudah 4 jam berlalu' ku berkata dalam hati.  Ya. Sudah 4 jam berlalu setelah Dia mengatakan bahwa kita tak bisa bersama lagi.  Aku masih saja pada posisi dimana bantal putih tulang pada pangkuanku, rambut tergerai lusuh, dan mata sembab sebesar bola pimpong.  Tik.. tik.. tik..  Suara itu masih ada.  Tapi kali ini, waktu berlalu lebih cepat. Karena 4 jam telah berganti menjadi 4 bulan.  Ya. Jam putih yang menempel pada dinding bercat putih.  Dengan suasana yg sama. Dengan kondisi hati yang sama.  Hatiku bertanya. 'Bagaimana kabarmu wahai hati yg menyakitiku?'  Seketika ku raih hp putihku dan ku buka media yg ku pikir dapat menjadi sedikit obat rinduku pada hati yg menghianatiku.  Senyumannya. Kesejukan wajahnya. Tetap saja m...

Bumi Berteriak dan Langit Menangis

Ku lihat gunung yang tak lagi menjulang berwarna hijau. Ku amati sungai yang tak lagi memperlihatkan ikan-ikan yang sedang berenang. Ku pandangi pantai yang hanya menampakkan tumpukan sampah-sampah. Sementara, Orang-orang duduk santai diteras rumah, sambil mencaci setiap daun yang berguguran. Sementara, Orang-orang elit mondar-mandir sok sibuk, namun menguap ketika sedang rapat. Bahkan, Para pemuda acuh tak acuh dan hanya fokus pada asmara yang membuatnya tak karuan. Padahal, Bumi berteriak meminta perhatian. Langit menangis melihat kedzoliman. Lalu, Tidakkah hatimu tergerak untuk segera bertindak? Kemanakah nuranimu menuntunmu untuk begerak? Wahai manusia, Ulurkan tanganmu untuk sekedar menyentuh tanah untuk mengetahui keadaannya. Langkahkan kakimu untuk sekedar mengamati kondisi sekitarmu. Yang seperti itu sesungguhnya lebih bernilai daripada mencaci dan mencari-cari kesalahan orang lain. Challange 5- #RuangProduktif

Ice Cream Berbahan Dasar Buah Local Ciplukan (Physalis angulata.L) dengan Modifikasi Susu Colostrum sebagai Inovasi Menuju Masyarakat Hidup Sehat

Ice Cream Berbahan Dasar Buah Local Ciplukan ( Physalis angulata.L ) dengan Modifikasi Susu Colostrum sebagai Inovasi Menuju Masyarakat Hidup Sehat Oleh Wirdatun Nafisah & Rizqy Khoirun Nisa' Telah diakui secara luas bahwa buah-buahan dan sayuran merupakan komponen penting dalam diet sehat. Serat dalam buah-buahan dan sayuran bermanfaat untuk membantu menjaga kadar gula darah, menjaga kadar lemak darah, menyehatkan saluran cerna dan membantu membuat rasa kenyang bagi yang sedang diet (Agudo, 2005). Selain itu, mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran juga bermanfaat mencegah kerusakan sel dalam tubuh akibat proses oksidasi dari polusi dan metabolisme tubuh (Witjaksono, 2013). Mengkonsumsi buah dan sayur penting untuk dilakukan setiap individu. Namun, Indonesia merupakan negara dengan tingkat populasi konsumsi buah dan sayur yang sangat rendah. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Indon...