Coba simak cerita yang akan saya tuliskan berikut ini.
Suatu ketika, ada seorang pemuda sedang berdiri dijalan. Dia menunggu taksi untuk pergi ke suatu tempat. Setelah beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti seketika pemuda itu melambaikan tangannya.
Tak perlu berpikir lama, pemuda itu membuka pintu dan duduk tepat dibelakang bangku sopir taksi.
"Mau pergi kemana mas?". Tanya sopir taksi.
"Pulang". Pemuda itu menjawab dengan santainya.
"Rumahnya dimana mas?". Pak sopir bertanya dengan sedikit mengerutkan kening.
"Rumah orang tua saya". Pemuda itu menjawab datar.
"Rumah orang tuanya dimana mas?". Pak sopir bertanya dengan nada sedikit tinggi.
Kemudian lagi-lagi pemuda itu menjawab datar.
"Ya disana".
Tau kah apa yang dilakukan sopirnya disaat puncak emosinya?
Menyuruh penumpang itu turun?
Atau malah memarahi dan memaki penumpang itu?
Sayangnya, jawabannya adalah tidak.
Pak sopir kemudian bertanya dengan lebih lembut.
"Mas ada uang berapa?".
Pemuda itu menjawab, "200 ribu rupiah".
Tak berkata lagi. Kemudian sopir taksi itu mulai mengemudikan taksinya. Dengan tanpa arah dan tujuan. Dipikirannya hanya satu. Mengemudikan mobil, sampai argo mobil tersebut mencapai 200 ribu.
Kemudian setelah sampai 200 ribu. Sopir taksi tersebut menyuruh pemuda itu turun namun uang 200 ribu pemuda itu ia ambil.
------
Inilah salah satu bukti, bahwa visi itu sangat penting. Bahwa asa itu sangat genting.
Yang menghindarimu dari hanya keliling-keliling. Namun juga menjadi bagian hidup masyatakat yang sungguh penting.
Nb: kisah ini baru saja saya dapatkan dari salah satu insporator di kegiatan Big Eco Camp 2.0
Semoga bisa dapat menularkan energi.
Challange 8-
#RuangProduktif
Comments
Post a Comment