Jumat (12/1) pagi hari, sepeda motor melaju sangat cepat menuju arah timur Malang. Motor yang dikendarai dua orang gadis (single, eak!) diperkirakan akan sampai di tempat tujuan 3-4 jam mendatang. Perjalanan ternekat menurut kami. Bagaimana tidak, perjalanan bermodalkan Ridho Ilahi tanpa Ridho orang tua, karena pasti tidak akan diizinkan jika kami izin mengendarai motor pergi ke kota dengan jarak puluhan kilometer jauhnya dari kota dingin ini.
Setengah perjalanan terlalui, sahabatku, panggil saja manny-ku, yang sedari awal menjadi driver handal menyerahkan jabatannya untuk ku lanjutkan setengah perjalanan selanjutnya. Tanpa banyak kata ku ambil alih pacuan gas dan mulai mengadu nasib di keramaian jalan pantura.
Perjalanan Malang-Probolinggo memang terpredikat horor oleh banyak orang. Mobil-mobil besar bergandengan, bus bus kota yang seenaknya menggunakan jalan, ataupun kendaraan sejenis kendaranku, atau motor-motor yang sangat suka melaju cepat tanpa berpikir sekitarnya. Nyaliku terpacu, emosiku tak karuan. Ditambah emosi yang memang sedang tidak stabil karena diriku sedang PMS, membuat laju motor kami sangat ganas. Berkali-kali manny-ku mengeram dan menarik baju dipundakku, bertanda dia sedang ketakutan. Berkali-kali terdengar suara peringatan dari bangku penumpang tapi tak ku hiraukan. Manny-ku tau aku tak sejago dia membawa motor, tp aku lebih jago dalam menaruhkan nyawa kepada Sang Pemberi Nyawa. Gas ku tarik dan membiarkan hatiku berdegup sangar cepat, diriku juga ketakutan. Bersamaan dengan itu, sholawat dan doa-doa ku lantunkan dalam hati, menstabilkan emosi berkendara dan agar diberi keselamatan oleh Sang Pemberi Keselamatan.
Tepat pukul 12.00, kami sampai di tempat ini. Nurul Jadid.
Setengah perjalanan terlalui, sahabatku, panggil saja manny-ku, yang sedari awal menjadi driver handal menyerahkan jabatannya untuk ku lanjutkan setengah perjalanan selanjutnya. Tanpa banyak kata ku ambil alih pacuan gas dan mulai mengadu nasib di keramaian jalan pantura.
Perjalanan Malang-Probolinggo memang terpredikat horor oleh banyak orang. Mobil-mobil besar bergandengan, bus bus kota yang seenaknya menggunakan jalan, ataupun kendaraan sejenis kendaranku, atau motor-motor yang sangat suka melaju cepat tanpa berpikir sekitarnya. Nyaliku terpacu, emosiku tak karuan. Ditambah emosi yang memang sedang tidak stabil karena diriku sedang PMS, membuat laju motor kami sangat ganas. Berkali-kali manny-ku mengeram dan menarik baju dipundakku, bertanda dia sedang ketakutan. Berkali-kali terdengar suara peringatan dari bangku penumpang tapi tak ku hiraukan. Manny-ku tau aku tak sejago dia membawa motor, tp aku lebih jago dalam menaruhkan nyawa kepada Sang Pemberi Nyawa. Gas ku tarik dan membiarkan hatiku berdegup sangar cepat, diriku juga ketakutan. Bersamaan dengan itu, sholawat dan doa-doa ku lantunkan dalam hati, menstabilkan emosi berkendara dan agar diberi keselamatan oleh Sang Pemberi Keselamatan.
Tepat pukul 12.00, kami sampai di tempat ini. Nurul Jadid.
--
Pengabdian Alumni MA NJ, merupakan satu-satunya tujuan kami untuk datang di tempat dengan penuh kedamaian ini. Pengabdian ini dilaksanakan oleh kami para alumni MBI/UI MA Nurul Jadid yang telah memiliki almamater berbeda dan beragam, sebagai mahasiswa UB, UNAIR, UGM, UNEJ dan berbagai universitas di Indonesia. Agenda pertama, aku diminta panitia untuk mengisi subacara Bimbingan dan Pelatihan Karya Tulis Remaja Sesi 1. With honor, aku suka menjadi bagian dari ini. Bertemu dengan adik-adikku, berbagi dan setidaknya saling menukar semangat. Begitupun manny-ku. Dia juga turur andil dalam bimbingan ini dengan menjadi pemateri pada sesi 2.
Hari-hari kami lewati sebagaimana kami menjadi santri dulu. Makan dengan menggunakan tangan dan kertas minyak, jajanan junk food menjadi idola sepanjang masa, WC dan kamar mandi yang ada kalanya zonk dengan pengertian yang tak dapat ku jelaskan. Namun perbedaannya adalah, tidak ada peraturan yang mengikat kami. Menggunakan handphone, tidak wajib jamaah di masjid, ataupun kegiatan-kegiatan lainnya.
--
Suatu tragedi terjadi. Menjadi pelengkap acara pengabdian kami tahun ini.
Pagi yang cerah, kami putuskan untuk melakukan ritual kami dalam kamar mandi, mencuci baju. Ember-ember yang berisi cucian dan alat mandi kami siapkan di depan kamar. Beberapa menit terlalui dengan bergosip ria di dalam kamar. Ember-ember masih berserakan di depan.
Tak lama, terdengar suara yang tidak asing kami dengar, suara yang kadang bak suara malaikat, tp juga kadang menjadi suara yang kami takuti. Benar saja, suara yang kami dengar saat itu bukanlah suara yang diharapkan kami dengar. Suara Asisten Pesantren Bu Nyai, panggil saja Te Su, mengomel kesana kemari karena kesalahan kami tidak cukup baik dalam menjaga kebersihan. Tidak berdebat lama, Te Su menyuruhku dan kedua temanku bersama segenap pengurus asrama untuk menghadap Bu Nyai. Kami beristighfar sepanjang jalan. Ketakutan ini mendera, rasanya, melebihi rasa saat ditilang Pak Polisi.
Sesampainya di dalem (sebutan rumah Bu Nyai), kami terdiam seribu kata. Mulut terkunci namun telinga harus segera menggunakan antena dan kesensitifisannya. Tidak ada yang bisa lakukan dan bahkan jelaskan. Hanya bisa diam menunduk, mendengarkan dan meng-iya-kan semua petuah dan ceramah sang Bunda.
Kesalahan kami bukanlah hanya karena kebersihan, tapi karena mengoperasikan handphone tapi belum izin dan sowan Bunda Nyai untuk stay di asrama untuk beberapa hari kedepan. Kesalahan tetap kesalahan, dan kami harus bertanggung jawab atas itu. Bunda menyuruh kami melakukan ritual pengguguran dosa, berdiri, begitu kami menyebutnya. Berdiri selama beberapa jam sesuai kehendak Bunda, menghadap ke tempat dimana banyak orang lalu lalang. Malu? Jelas tidak. Apapun yang kamu lakukan dengan keikhlasan, termasuk sebuah hukuman, tidak akan terasa berat, maka lelah, letih, capek dan lainnya akan kalah dengan rasa ikhlas yang menenangkan. Dan katanya lagi, hukuman yang diberikan sebagai bentuk sayangnya Bunda akan menganugerahkanmu sesuatu jika kamu ikhlas. Berkali ku berbisik dengan kawan disampingku berdiri, "gak papa, anggap saja pengabdian. Media menggugurkan dosa-dosa kita". Benar saja, tak lama setelah itu, pembantu Bunda memanggil kami tanda waktu hukuman telah habis.
Kami berjalan kembali ke asrama. Diriku masih terjebak dengan gejolak di otakku. Berpikir dan terus berpikir. Apa yang telah ku lakukan selama di pondok ini, yang baik dan terkhusus yang buruk ternyata sangat banyak dan tak terhitung. Sepertinya aku menginginkan hukuman sebagai ritual peleburan dosa.
---
Nurul Jadid.
Yang setiap 5 waktunya mewajibkan kepada seluruh penghuninya untuk berjamaah.
Yang setiap malamnya terlantun lantunan merdu menyenyakkan sekaligus melarutkan kami dalam buaian malam dan tenangnya dalam sujud tahajud.
Yang setiap malamnya terlantun lantunan merdu menyenyakkan sekaligus melarutkan kami dalam buaian malam dan tenangnya dalam sujud tahajud.
Yang setiap waktunya menyadarkan kami akan toleransi sesama, membantu sesama, dan bahkan menyayangi sesama.
Nurul Jadid.
Rindu semakin menggunung ketika ketenangan ku rasakan hanya dengan mendengar namamu.
Nurul Jadid.
Rindu semakin menggunung ketika ketenangan ku rasakan hanya dengan mendengar namamu.
Rasa yang semakin menjadi jadi untuk selalu menjadi bagian darimu.
Ah. Nurul Jadid.
Betapa diriku sangat ingin untuk selalu berada di dekatmu.
Betapa diriku sangat ingin untuk selalu berada di dekatmu.
Malang, January 30 2018
Comments
Post a Comment