Hari ke tiga dalam seminggu. Menjadi bagian dari rumah sehat, sebuah Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang yang dikembangkan oleh Prof. Sutiman bersama tim.
Hari ke tiga dalam seminggu. Membuat ku mulai terbuka dan terpana, akan luasnya Ilmu yang belum ku jamah, akan manfaat ilmu yang beriringan dengan berkah.
Rumah Sehat adalah Rumah Harapan.
Puluhan bahkan ratusan relawan (sebutan pasien di tempat ini) berdatangan untuk menyempurnakan ikhtiyarnya kemudian bertawakkal dan bersegera menyaksikan ke-Agungan Tuhan.
Misal saja Bu Romla.
Ibu asal Bangkalan Madura dengan 4 anak yang dengan bangga menceritakan, "anak saya semuanya jd polisi mbak, anak pertama di Jakarta, kedua di Madura dan ketiga keempat di Pangkal Pinang Sumatera". Beliau tidak segan menceritakan mengenai perjalannya dan perjuangannya melawan penyakit syarif yang tak jarang membuatnya kejang-kejang selama 4 tahun terakhir. "Dulu, pas di Pangkal Pinang," (dengan logat Maduranya yang kentel), "dibawa ke dokter syaraf dan dokter bedah. Dokter bedah menyarankan saya untuk segera melakukan operasi atas benjolan yang ada di kepala saya, tp anak saya menentang keras karena jaminan sembuh dan kembali ke semula sangat kecil. Lalu saya dan anak saya harus pulang ke Madura karena anak saya akan menikah. Di Madura saya bertemu dengan dokter Mahrus saudara saya, beliau membawa saya berobat di rumah sakit ini". Ceritanya sambil tersenyum. "Sejak kapan Bu mulai berobat disini? dan bagaimana perkembangannya". Tanyaku penasaran. "Alhamdulillah kejangnya sudah tidak datang (maksudnya tidak kambuh), saya juga sudah tidak lagi minum obat dari dokter hihi (Ibu Romla terkekeh), enak disini mbak, obatnya adalah kopi telor. Biasanya saya minum kopi telor yang dikasih dokter dua kali sehari. Kalo balur saya lakukan juga di rumah bersama anak saya". Jelasnya puas.
Ibu Romla adalah relawan yang baik, karena kebaikannya mengijinkan kami para mahasiswa PKL untuk mengikuti serangkaian proses balur dari awal hingga akhir. Kami mengamati dan mencermati disetiap stepnya sambil berkata dalam hati semoga cepet sembuh, Bu.
Kemudian ada Latica.
Anak perempuan berumur 2.5 tahun yang suka menjabat tangan orang yang ditemuinya. Anak perempuan cantik dengan benjolan besar di mata kanannya.
Latica, yang suka bertanya apa ini disetiap sesuatu yang baru ia jumpai. Latica yang suka mencari nenek dan kakungnya ketika membutuhkan dukungan saat menjalankan perawatan.
Tak jarang tampak Ibunya murung dengan wajah super letih. Aku yakin, letih yang tampatk dari wajahnya bukan karena letih akibat mengurus Latica, tapi karena letih memikirkan kanker yang tak kunjung enyah dari tubuh putri cantinya. Kemudian tak sengaja terdengar salah satu keluarga pasien lain menyemangati, "Tidak masalah Bu. Semuanya butuh proses. Bagi penderita kanker, bisa makan enak, tidur dan berlarian adalah prestasi yang cukup besar. Dan Latica perlahan sudah memperoleh itu". Ucapnya meyakinkan.
Benar sekali. Pernyataan tersebut sangat sesuai dengan tujuan dan goals Rumah Sehat ini. Lembaga ini didirikan, adanya jaminan kesembuhan total sepertinya sangat angkuh dan mendahului kehendak Sang Pemberi Sehat, sehingga, tujuan ini didirikan adalah membantu para relawan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dari yang tidak enak makan menjadi lahap, tidak bisa tidur menjadi nyenyak, atau bahkan sekedar membantu para relawan untuk think positive atas penyakit yang sedang diperjuangkan. Latica, semoga kau kuat sekuat senyum yang merekah disetiap kunjunganmu, Dek. Kamu bisa!
Raka.
Anak laki-laki berumur 6 tahun memasuki ruangan kami dan memutari meja. Dengan pandangan kosong yang entah kemana. Kami memanggilnya dan mengajaknya berkomunikasi. Tapi nihil. Anak itu tetap berjalan mengabaikan kami. Feeling ku berkata, sepertinya anak ini Autis. Ku ikuti kemana anak itu pergi, ternyata ia menghampiri mamanya. Ku sapa lagi dan Ibu itu tak segan mengatakan "Namanya Raka umur 6 tahun. Dia Autis mbak". Benar dugaanku. Kemudian Ibu itu melanjutkan perkataannya, "dia Autis karena logam berat yang banyak dalam tubuhnya. Tapi Alhamdulillah, sudah mulai fokus kembali setelah berobat disini". Tak panjang lebar ku iakan dan beranjak dari tempat itu, semoga kamu tumbuh menjadi lelaki idaman semua wanita Raka. Cepet sembuh ya!
Banyak sekali yang ku dapat sebagai mahasiswa PKL di sana. Dari mulai cara berinteraksi dengan orang baru, orang yang memiliki sedikit harapan hidup. Menstabilkan emosi agar retakan hati akibat melihat perjuangan mereka tidak mengakibatkan kerapuhan yang menjadi-jadi di hati mereka. Benar adanya, Allah tidak akan memberikan ujian yang berat kecuali mereka yang kuat untuk menghadapinya.
Hari ke tiga dalam seminggu. Membuat ku mulai terbuka dan terpana, akan luasnya Ilmu yang belum ku jamah, akan manfaat ilmu yang beriringan dengan berkah.
Rumah Sehat adalah Rumah Harapan.
Puluhan bahkan ratusan relawan (sebutan pasien di tempat ini) berdatangan untuk menyempurnakan ikhtiyarnya kemudian bertawakkal dan bersegera menyaksikan ke-Agungan Tuhan.
Misal saja Bu Romla.
Ibu asal Bangkalan Madura dengan 4 anak yang dengan bangga menceritakan, "anak saya semuanya jd polisi mbak, anak pertama di Jakarta, kedua di Madura dan ketiga keempat di Pangkal Pinang Sumatera". Beliau tidak segan menceritakan mengenai perjalannya dan perjuangannya melawan penyakit syarif yang tak jarang membuatnya kejang-kejang selama 4 tahun terakhir. "Dulu, pas di Pangkal Pinang," (dengan logat Maduranya yang kentel), "dibawa ke dokter syaraf dan dokter bedah. Dokter bedah menyarankan saya untuk segera melakukan operasi atas benjolan yang ada di kepala saya, tp anak saya menentang keras karena jaminan sembuh dan kembali ke semula sangat kecil. Lalu saya dan anak saya harus pulang ke Madura karena anak saya akan menikah. Di Madura saya bertemu dengan dokter Mahrus saudara saya, beliau membawa saya berobat di rumah sakit ini". Ceritanya sambil tersenyum. "Sejak kapan Bu mulai berobat disini? dan bagaimana perkembangannya". Tanyaku penasaran. "Alhamdulillah kejangnya sudah tidak datang (maksudnya tidak kambuh), saya juga sudah tidak lagi minum obat dari dokter hihi (Ibu Romla terkekeh), enak disini mbak, obatnya adalah kopi telor. Biasanya saya minum kopi telor yang dikasih dokter dua kali sehari. Kalo balur saya lakukan juga di rumah bersama anak saya". Jelasnya puas.
Ibu Romla adalah relawan yang baik, karena kebaikannya mengijinkan kami para mahasiswa PKL untuk mengikuti serangkaian proses balur dari awal hingga akhir. Kami mengamati dan mencermati disetiap stepnya sambil berkata dalam hati semoga cepet sembuh, Bu.
Kemudian ada Latica.
Anak perempuan berumur 2.5 tahun yang suka menjabat tangan orang yang ditemuinya. Anak perempuan cantik dengan benjolan besar di mata kanannya.
Latica, yang suka bertanya apa ini disetiap sesuatu yang baru ia jumpai. Latica yang suka mencari nenek dan kakungnya ketika membutuhkan dukungan saat menjalankan perawatan.
Tak jarang tampak Ibunya murung dengan wajah super letih. Aku yakin, letih yang tampatk dari wajahnya bukan karena letih akibat mengurus Latica, tapi karena letih memikirkan kanker yang tak kunjung enyah dari tubuh putri cantinya. Kemudian tak sengaja terdengar salah satu keluarga pasien lain menyemangati, "Tidak masalah Bu. Semuanya butuh proses. Bagi penderita kanker, bisa makan enak, tidur dan berlarian adalah prestasi yang cukup besar. Dan Latica perlahan sudah memperoleh itu". Ucapnya meyakinkan.
Benar sekali. Pernyataan tersebut sangat sesuai dengan tujuan dan goals Rumah Sehat ini. Lembaga ini didirikan, adanya jaminan kesembuhan total sepertinya sangat angkuh dan mendahului kehendak Sang Pemberi Sehat, sehingga, tujuan ini didirikan adalah membantu para relawan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dari yang tidak enak makan menjadi lahap, tidak bisa tidur menjadi nyenyak, atau bahkan sekedar membantu para relawan untuk think positive atas penyakit yang sedang diperjuangkan. Latica, semoga kau kuat sekuat senyum yang merekah disetiap kunjunganmu, Dek. Kamu bisa!
Raka.
Anak laki-laki berumur 6 tahun memasuki ruangan kami dan memutari meja. Dengan pandangan kosong yang entah kemana. Kami memanggilnya dan mengajaknya berkomunikasi. Tapi nihil. Anak itu tetap berjalan mengabaikan kami. Feeling ku berkata, sepertinya anak ini Autis. Ku ikuti kemana anak itu pergi, ternyata ia menghampiri mamanya. Ku sapa lagi dan Ibu itu tak segan mengatakan "Namanya Raka umur 6 tahun. Dia Autis mbak". Benar dugaanku. Kemudian Ibu itu melanjutkan perkataannya, "dia Autis karena logam berat yang banyak dalam tubuhnya. Tapi Alhamdulillah, sudah mulai fokus kembali setelah berobat disini". Tak panjang lebar ku iakan dan beranjak dari tempat itu, semoga kamu tumbuh menjadi lelaki idaman semua wanita Raka. Cepet sembuh ya!
Banyak sekali yang ku dapat sebagai mahasiswa PKL di sana. Dari mulai cara berinteraksi dengan orang baru, orang yang memiliki sedikit harapan hidup. Menstabilkan emosi agar retakan hati akibat melihat perjuangan mereka tidak mengakibatkan kerapuhan yang menjadi-jadi di hati mereka. Benar adanya, Allah tidak akan memberikan ujian yang berat kecuali mereka yang kuat untuk menghadapinya.
Comments
Post a Comment